Oleh: Wulan Nur A.

Malam itu gemuruh. Awan menjadi hitam pekat tak lagi biru. Langit sedang berduka, mengeluarkan air mata. Burung yang biasanya hinggap di dahan, sekarang tak terlihat berlalu lalang. Mungkin mereka takut menampakkan wajahnya melihat malam yang sedang berduka. Tak terhitung berapa kali awan telah mengeluarkan isinya.

Kamu duduk di tepi danau. Rambut yang panjang, dengan polesan pita biru kecil di bagian ujung. Cahaya dari lampu di sekitar membuat matamu mengatup. Air yang disebabkan oleh langit juga membasahi tubuhmu. Kedua tangan indah dengan sempurna bertengger di dadamu.  Kamu tetap diam, seolah tak kedinginan. Sepertinya, hujan adalah suasana paling indah yang selalu kamu suka.

Seseorang di dekatmu mengeluarkan setangkai mawar berwarna putih. Memberinya padamu. Kamu menerimanya dengan hampa. Duri duri dari tangkainya menggores tanganmu. Sekali lagi, kamu tetap diam. Tak ada rasa sakit yang kamu tunjukkan. Tapi tanganmu sudah memerah, darah dimana mana.

Kamu beranjak dari dudukmu. Beralih menuju  tempat duduk panjang yang di dekatnya di sinari lampu temaram. "Bahkan, aku tidak tahu apa itu sayang. Bagaimana wujudnya. Bagaimana rasanya. Atau cara mendapatkan nya saja aku tak tahu."

Seseorang yang tadi di dekatmu tak tinggal diam. Ia juga kembali duduk di dekatmu. "Karena kamu selalu berharap mendapatkan kasih sayang pada orang."

Sekali lagi kamu beranjak dari tempatmu. Berjalan ke tepi danau. Kamu sudah lelah untuk duduk kembali. Sekarang berdiri adalah pilihanmu. Kembali, orang itu mengikutimu. Berdiri di dekatmu. "Pelangi malam indah ya."

Kamu menoleh kepada orang di dekatmu itu. "Jangan ngawur, pelangi di malam hari itu mustahil"

Orang di dekatmu tersenyum, tapi kalah manis dengan senyummu. "Kamu juga begitu."

Otakmu di peras untuk berpikir. "Maksud kamu apa?"

"Kamu terlalu berusaha menjadi pelangi bagi orang yang tidak di takdirkan untukmu. Kamu juga terlalu berharap mendapatkan kasih sayang dari apa yang bukan di takdirkan untukmu. Layaknya pelangi yang berharap melukis malam padahal tuhan tidak mengiyakan."

Awan tak lagi berduka. Ia sudah tidur terlelap menutup matanya. Malam sudah mulai larut. Di sekitar danau warung-warung kecil juga sudah tutup. Terbukti Hanya seorang kakek tua yang berjualan kopi sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Langkahmu, menuju ke tempat itu.

Kopi jahe adalah minuman favoritmu. Tentu saja, rasanya yang pas di seduh dengan air hangat. Mungkin akan sedikit menenangkan pikiranmu. Seperti biasa, orang tadi tetap di dekatmu. Tidak bisa berjauhan denganmu sepertinya.

Wajahmu terlihat kesal, "kamu selalu menggangguku, beberapa menit lagi hari valentine. Sana rayakan dengan pacarmu, jangan menggangguku."

"Di depanku." Kedua alismu menyatu. "Ah bercanda, jangan serius belum waktunya."

Kamu menghela nafas panjang, "kata-katamu selalu begitu. Itu yang membuatku tidak bisa melepaskanmu." Kamu melihat jam yang melingkar di tanganmu, "yay, hari valentine. Apakah kamu tidak berniat mengucapkannya padaku?"

Orang di dekatmu tersenyum, tapi tidak menoleh kepadamu. "Bahkan kamu tidak tahu alasan aku memutuskanmu."

"Aku tidak peduli, kamu memang jahat."

"Andai kamu tahu, aku memutuskanmu untuk mengurangi dosaku. Mengurangi dosa orang tuaku. Dan tidak mau menambah dosamu. Kita sama sama Islam bukan? Bahkan untuk merayakan valentine tuhan tidak mengizinkan." Kamu terdiam, orang di dekatmu sudah menyakitimu. Tapi secara tidak sengaja telat memutus salah satu dosamu.

"Kamu tidak perlu mencari pacar hanya untuk memberimu coklat di hari valentine. Itu hanya membuatmu senang, tapi bukan tradisi Islam. Kamu hanya perlu tuhan. Karena hanya tuhanlah sebaik baiknya tempat mengungkapkan kesedihan dan meminta pertolongan."

Malam itu gemuruh. Awan menjadi hitam pekat tak lagi biru. Langit sedang berduka, mengeluarkan air mata. Burung yang biasanya hinggap di dahan, sekarang tak terlihat berlalu lalang. Mungkin mereka takut menampakkan wajahnya melihat malam yang sedang berduka. Tak terhitung berapa kali awan telah mengeluarkan isinya.

Kamu duduk di tepi danau. Rambut yang panjang, dengan polesan pita biru kecil di bagian ujung. Cahaya dari lampu di sekitar membuat matamu mengatup. Air yang disebabkan oleh langit juga membasahi tubuhmu. Kedua tangan indah dengan sempurna bertengger di dadamu.  Kamu tetap diam, seolah tak kedinginan. Sepertinya, hujan adalah suasana paling indah yang selalu kamu suka.

Seseorang di dekatmu mengeluarkan setangkai mawar berwarna putih. Memberinya padamu. Kamu menerimanya dengan hampa. Duri duri dari tangkainya menggores tanganmu. Sekali lagi, kamu tetap diam. Tak ada rasa sakit yang kamu tunjukkan. Tapi tanganmu sudah memerah, darah dimana mana.

Kamu beranjak dari dudukmu. Beralih menuju  tempat duduk panjang yang di dekatnya di sinari lampu temaram. "Bahkan, aku tidak tahu apa itu sayang. Bagaimana wujudnya. Bagaimana rasanya. Atau cara mendapatkan nya saja aku tak tahu."

Seseorang yang tadi di dekatmu tak tinggal diam. Ia juga kembali duduk di dekatmu. "Karena kamu selalu berharap mendapatkan kasih sayang pada orang."

Sekali lagi kamu beranjak dari tempatmu. Berjalan ke tepi danau. Kamu sudah lelah untuk duduk kembali. Sekarang berdiri adalah pilihanmu. Kembali, orang itu mengikutimu. Berdiri di dekatmu. "Pelangi malam indah ya."

Kamu menoleh kepada orang di dekatmu itu. "Jangan ngawur, pelangi di malam hari itu mustahil"

Orang di dekatmu tersenyum, tapi kalah manis dengan senyummu. "Kamu juga begitu."

Otakmu di peras untuk berpikir. "Maksud kamu apa?"

"Kamu terlalu berusaha menjadi pelangi bagi orang yang tidak di takdirkan untukmu. Kamu juga terlalu berharap mendapatkan kasih sayang dari apa yang bukan di takdirkan untukmu. Layaknya pelangi yang berharap melukis malam padahal tuhan tidak mengiyakan."

Awan tak lagi berduka. Ia sudah tidur terlelap menutup matanya. Malam sudah mulai larut. Di sekitar danau warung-warung kecil juga sudah tutup. Terbukti Hanya seorang kakek tua yang berjualan kopi sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Langkahmu, menuju ke tempat itu.

Kopi jahe adalah minuman favoritmu. Tentu saja, rasanya yang pas di seduh dengan air hangat. Mungkin akan sedikit menenangkan pikiranmu. Seperti biasa, orang tadi tetap di dekatmu. Tidak bisa berjauhan denganmu sepertinya.

Wajahmu terlihat kesal, "kamu selalu menggangguku, beberapa menit lagi hari valentine. Sana rayakan dengan pacarmu, jangan menggangguku."

"Di depanku." Kedua alismu menyatu. "Ah bercanda, jangan serius belum waktunya."

Kamu menghela nafas panjang, "kata-katamu selalu begitu. Itu yang membuatku tidak bisa melepaskanmu." Kamu melihat jam yang melingkar di tanganmu, "yay, hari valentine. Apakah kamu tidak berniat mengucapkannya padaku?"

Orang di dekatmu tersenyum, tapi tidak menoleh kepadamu. "Bahkan kamu tidak tahu alasan aku memutuskanmu."

"Aku tidak peduli, kamu memang jahat."

"Andai kamu tahu, aku memutuskanmu untuk mengurangi dosaku. Mengurangi dosa orang tuaku. Dan tidak mau menambah dosamu. Kita sama sama Islam bukan? Bahkan untuk merayakan valentine tuhan tidak mengizinkan." Kamu terdiam, orang di dekatmu sudah menyakitimu. Tapi secara tidak sengaja telat memutus salah satu dosamu.

"Kamu tidak perlu mencari pacar hanya untuk memberimu coklat di hari valentine. Itu hanya membuatmu senang, tapi bukan tradisi Islam. Kamu hanya perlu tuhan. Karena hanya tuhanlah sebaik baiknya tempat mengungkapkan kesedihan dan meminta pertolongan."