18 April 2018
Hujan di sore pada tahun yang penuh kenangan itu, tak begitu deras. Sayup-sayup suara yang berusaha aku ingat, memendar bersama gemericik yang dihasilkan dari riangnya para santri bermain bola di bawah gerimis. Seru, gembira, dan tak kusangka akan berlalu.
Pada sore yang dingin itu, sekali lagi coba kuingat-ingat suara yang hampir kulupakan. Suara yang kata temanku, seperti suara tersangka pengedar borax. Agak menyebalkan, tapi dia benar. Suara itu, suara yang mungkin tidak akan pernah aku dengar lagi seumur hidupku.
"Pakai lauk apa, Cong?." Itu suara Bapakku. Sedang orang itu, hanya menunjuk lauk pauk yang diinginkan dari balik etalase kaca. Lamat-lamat aku perhatikan, garis wajah yang nyaris terhapus dari ingatanku, wajah yang tak mungkin aku lupakan seumur hidupku. Matanya menemukan wajah biasku, tersenyum tipis, mengedipkan matanya centil, dan kembali fokus berbicara dengan Bapakku tentang lauk apa yang diinginkan untuk makan siangnya yang terlambat.
Bapak dan Ibuku membuka warung nasi kecil-kecilan di sisi jalan, dekat pondok pesantren di desaku. Pria yang menjadi cinta pertamaku itu adalah salah satu santri asal Jakarta. Ia bernama Kavi yang setiap hari datang untuk membeli nasi. Kavi hanya terpaut lebih tua setahun di atasku. Senyumnya manis, ceria, dan kadang juga suka membicarakan hal konyol. Sepertinya, itu salah satu alasan kenapa aku sangat suka dia. Lucu, bukan? Seseorang bisa jatuh cinta karena penyebab aneh, tapi bagiku ini cinta yang begitu indah, terlalu indah hingga semua keindahan dalam hidupku seperti berhenti pada masa itu.
"Mawa, tolong belikan telur sekilo ke toko Mbah Haji, ya!." Ibuku memecah lamunanku, Kavi sudah pergi, dan aku bergegas menuruti permintaan Ibu.
Aku remaja berusia 18 tahun, yang hidup layaknya bocah tanpa beban. Hari-hariku hanya membantu Ibu di warung, sembari menunggu Kavi membeli nasi, lalu bertegur sapa kecil sambil melempar senyum tipis dan mengobrol diam-diam tanpa orang tahu. Kami berteman, tapi aku suka dia.
"Mawa, bagaimana menurutmu kalau aku ikut lomba pidato?." Aku menoleh pada suara yang aku kenali, itu Kavi yang berjalan di belakangku.
"Aku mau ikut lomba pidato Bahasa Arab." Merasa tidak didengarkan, dia mengejarku yang berjalan cepat sambil membawa telur pesanan Ibu. "Ya udah ikut aja. Kenapa bilang sama aku?" sahutku terbata. Bukan apa-apa, aku selalu menghindar. Karena setiap aku bicara dengan dia, aku jadi deg-degan dan mukaku memerah seperti tomat, ini memalukan.
"Kamu gak suka aku lagi?" tanya Kavi. "Enggak." Gila. Kenapa aku jawab begitu? Aku suka dia melebihi diriku sendiri, tapi aku tahu dia hanya membuat drama. Karena beberapa hari ini, aku selalu menghindar dari dia. "Aku ikut lomba pidato Bahasa Arab, biar kamu terkesan." Itu kalimat terakhirnya dan pergi entah ke mana.
Pagi ini warung tampak lengang, penjualan menurun. Karena ada warung nasi yang baru buka di sebelah warung kami. Sedikit banyak, langganan ibu akan beralih untuk sekadar menyicip masakan baru. Aku pikir, mungkin Kavi juga pergi ke sana. Karena semenjak percakapan singkat itu, berhari-hari aku tidak bertemu dia. Dia tidak datang ke warung atau sekadar bertemu ketika dia akan berangkat sekolah. Ini aneh, apa dia sakit atau tidak mau menemuiku lagi? Aku sangat resah. Bahkan untuk menanyakan kabarnya pada temannya, aku malu.
"Kavi ke mana, ya? Tumben, sudah lima harian gak ke sini." tanya Ibu. Beliau tersenyum ke arahku, seperti tahu aku sedang menunggu seseorang karena menatap lama ke luar kaca. Kavi juga dekat dengan Ibu karena dia pria humoris yang gampang akrab, bahkan dengan orang tua.
"Mungkin sakit ya, Bu?.", jawabku.
"Kavi pernah bilang ada karantina untuk ikut lomba pidato. Entah, apa benar-benar ikut anak itu." Apa yang ibu katakan terdengar masuk akal. Karena dia bilang ingin ikut lomba pidato saat itu. Dia laki-laki yang rajin, aku harap dia bisa memberikan yang terbaik.
Hari ini warung sepi. Ibu dan Bapak pulang ke rumah saat petang, dengan membawa banyak nasi dan lauk sisa. Wajah keduanya tertunduk kecewa. "Gak apa-apa ya, Nduk? Siapa tahu, besok santri banyak yang beli nasi Ibu." Ibu mengelus kepalaku, menenangkanku. Karena melihat aku, juga merasa kecewa. Padahal aku tahu, dialah yang paling sedih hari ini. Karena harus masak dari tengah malam, berjualan, namun mendapatkan sedikit uang. Aku hanyalah anak remaja yang baru mengalami masa pubertas, tapi aku mengerti, ini adalah masa yang sulit bagi keluargaku. Aku tak bisa dapatkan apapun yang aku mau, bahkan tidak berkesempatan menginginkan apapun. Karena terbatasnya ekonomi keluargaku. Di masa ini, aku bersamanya. Bercerita dengannya lewat mata, tulisan, bahkan doa-doaku.
"Mawaaaa ...." Kavi berlari dari arah pintu asrama. Ini hampir magrib, tapi dia nekat berlari sambil membawa piala dengan senyum cerah di wajah. Aku dan Ibu menoleh bersamaan sambil menahan tawa. Karena penampilannya yang mirip mbah dukun, sepertinya itu kostum khusus yang dipakai saat mengikuti lomba.
"Aku dapat juara dua." Dia menyerahkan pialanya padaku, piala lomba pidato Bahasa Arab yang dia ceritakan. "98, nilai sempurna, cuma kurang dua angka. Karena ustaznya yang kasih nilai pelit.", lanjutnya.
Aku dan Ibu sontak tertawa. "Kamu serius? Ini pialamu bukan beli, kan?", tudingku bercanda.
"Gila kamu. Aku dapat itu setelah nahan berak 3 harian di tempat karantina.", jawabnya asal. Lagi-lagi, dia konyol. Aku tertawa. "Kenapa ditahan?", tanyaku masih tertawa. "Kamar mandinya di sungai. Sudah-sudah, pokoknya aku serius, aku juara dua. Ini pialanya buat kamu aja.", dia menjawab kesal.
"Kok buat aku? Kan yang menang kamu."
"Aku cuma pingin buktikan sama kamu, kalau aku itu gak bodoh, buktinya menang lomba. Pialanya juga bagus banget, tanda kalau kamu pemenang di hatiku, ciaaah."
Kali ini, Ibuku tertawa terbahak-bahak mendengar gombalannya. "Anak kecil tahu apa, sudah ayo Mawa kita pulang. Tuh, Kavi lihat, kamu udah dipanggil-panggil disuruh masuk. Selamat ya, Kavi. Udah kita cerita-ceritanya besok lagi." Ibuku menunjuk satpam pesantren yang sejak tadi memanggil dan memelototi Kavi. Karena sudah waktunya salat magrib dan dia masih berada di luar asrama.
Momen ini seperti meng-iyakan bahwa aku sedang tidak mencintai sendirian. Momen-momen masa remaja yang kami lewati bersama sangat menyenangkan. Perasaan ini tumbuh, berbunga, dan merekah seiring dengan pola pikir kami. Tak ada alasan khusus, tak ada kekhawatiran, hanya menikmati waktu berharga bersama-sama dan memaknai cinta dengan sederhana. Sesuatu yang murni dan tidak pernah lebih membahagiakan daripada sekadar menunggunya datang mengambil sarapan atau makan siangnya ke warung. Hanya aku, dia, dan pembicaraan kami yang malu-malu namun saling peduli dan mendukung satu sama lain.
"Aku punya mimpi yang serius." kata Kavi.
"Emang ada mimpi yang gak serius?"
"Aku serius, Mawa. Aku janji sama kamu."
"Apa yang bisa anak remaja janjikan?"
"Ada lah pokoknya, jangan remehkan pesona orang Betawi."
"Kamu kan orang Jawa."
"Eh, iya juga. Pokoknya, besok aku kasih tahu kamu sama Ibu kamu sesuatu." Terdengar seperti hal penting, tapi aku tahu dia hanya ingin memamerkan komputer miliknya yang seusia Presiden Soekarno itu. "Iya iya, cepat kamu masuk sana." usirku.
"Lho, kamu gak penasaran?", sungutnya.
"Aku lebih penasaran ngeliat kamu dipukul." Tawa kami pecah lagi saat akhirnya satpam itu mengambil sapu lidi untuk memukul Kavi. Karena menghiraukan panggilan sejak tadi. Dia berlari sambil terus mengatakan hal konyol dan lucu padaku dan Ibu. Aku menatap piala kecil bertuliskan namanya "Kavi Alvendra."
"Ayo bertemu, ini Kavi." Aku nyaris menyemburkan air yang baru saja kuminum saat sebuah pesan baru dari nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Baru saja ritual mengingat masa lalu aku rampungkan, ajaib sekali setelah lima tahun menghilang, dia datang berkabar. Aku membuka pesan itu dengan tangan gemetar tanpa bisa mengetik balasan apapun. Sudah lebih lima tahun aku dan dia tak saling mengabari karena Kavi hilang entah ke mana. Pencarianku selama hampir lima tahun hanya menemukan kenihilan, seperti mimpi rasanya saat dia mengabariku duluan dan meminta bertemu.
Aku menyetujuinya karena perasaanku tetap sama. Ini hanya waktu yang berlalu, sedangkan semua tentangnya masih terekam jelas diingatanku. Senyumnya, tawanya, suaranya, bahkan celotehannya. Kami bertemu keesokan harinya di sebuah kafe dekat kampusku. Sudah tiga puluh menit dari waktu janjian kami, tapi si empunya tak kunjung datang. Aku mulai resah, semuanya bercampur menjadi satu, hingga lonceng pintu berbunyi saat seseorang masuk dari sana dan orang itu menghampiri mejaku lalu duduk tanpa aba-aba.
"Mau pesan apa?" Aku membuka obrolan hati-hati. "Air putih saja," jawabnya. Aku mengangguk kikuk, tak lama pelayan datang untuk membawakan air dan cokelat hangat pesananku. Ini gila, aku sudah berlatih ratusan kali untuk tenang saat dia di hadapanku nanti. Karena aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ke sekian kalinya, mendapatkan cinta pertamaku seperti saat masih kecil dulu. Setidaknya aku harus berani menatap matanya lagi, setelah bertahun-tahun lamanya.
"Mawa, aku tidak bisa mencintai kamu." Aku membatu mendengar kalimat itu, tiba-tiba keluar dari mulutnya. Kami belum menanyakan kabar masing-masing, sedangkan dia sudah terburu-buru ke inti pertemuan. "Itu yang ingin aku sampaikan dulu, maaf baru bilang sekarang. Karena aku tahu, kamu nungguin aku terus.", lanjutnya.
Lidahku kelu, aku bahkan tidak bisa menyangkal apapun di hadapannya. Ya, aku memang menunggunya, tapi bukan untuk penolakan seperti ini. Mataku panas, sekuat tenaga aku tahan air mata ini agar tidak membuncah. "Bisa kamu ulang lagi kalimatmu?", ujarku.
"Aku minta maaf. Kenangan tidak berarti lagi, setelah kita dewasa. Kita butuh yang menemani saat susah dan senang dari awal hingga akhir."
"Kamu tidak mencintaiku." Kavi terdiam. "Ulangi lagi kalimatmu agar aku yakin."
"Yakin apa? Aku tidak akan berubah pikiran."
"Yakin agar aku selalu memilih diriku dari apapun yang akan terjadi di depan." Aku menarik napas. "Waktu seperti lingkaran yang kejam, mengurungku di suatu momen, ketika aku tidak dipilih. Aku menjalani hari bertahun-tahun, datang ke suatu tempat lebih awal, memakai pakaian berbeda, menuju tempat yang sama, bertahan dengan segala kemungkinan, kupikir itu baik. Tapi aku salah, ada kalanya di mana aku harus memilih tidak datang sama sekali."
"Mawa ...." Kavi menyentuh tanganku namun langsung kutepis. "Aku tidak takut pada penolakan, aku hanya takut hari ini tidak benar-benar berakhir. Bagaimana jika aku harus hidup selamannya di satu hari, di mana aku tidak dicintai?", kataku. Setelah mengatakan itu, aku mengemas tasku lalu bergegas pergi dari tempat itu.
Aku sudah membayangkan banyak kemungkinan, semuanya selalu berakhir buruk dan penuh air mata dalam pikiranku. Aku mencintai Kavi. Namun bagiku, dia adalah seseorang yang berbeda, entah dari kepribadian barunya atau caraku memandangnya. Dia bukan lagi seseorang yang ingin aku miliki, tapi sebagai seseorang yang mungkin tak pernah ditakdirkan tinggal. Dadaku sesak. Harapan yang aku bangun, diam-diam hancur. Tapi, langkahku tidak terasa berat. Aku memilih diriku.
____________________
*) Perempuan yang sibuk bekerja dan ngebucin.
.jpeg)
0 Komentar