Oleh : Wilda Zakiyah*

Buku berjatuhan dari rak yang tersusun rapi karena tersenggol tikus, di perpustakaan kecil pada sebuah kota besar kedua di El Salvador, Santa Ana. Seorang gadis kecil dengan rambut bergelombang yang terurai, duduk di pojok ruangan sambil membaca buku usang yang jarang disentuh manusia. Sepertinya, hanya dia dan penjaga perpustakaan saja yang menyentuhnya. Debu tebal dan beberapa serangga yang melintas tidak mengusik gadis itu. Dia tetap tenang dan fokus membaca.

Perpustakaan tersebut sangat kecil, berdiri di tengah kota Santa Ana yang cukup megah. Gadis itu adalah pengunjung setia di sana, setiap hari dia datang sepulang sekolah, membaca buku sendirian sampai matahari hampir terbenam, lalu pulang sebelum hari benar-benar petang. 

Halaman 161, buku yang dibacanya itu ditandai dengan tali sepatu agar tidak lupa saat esok kembali lagi. Buku berjudul “God's Heaven” itu, sempurna membuatnya ingin merasakan surga. Sebab sehari-hari dia hidup di neraka, bersama Ibu dan saudara tirinya. Perpustakaan adalah tempat pelarian terbaik.

Tepat pada 1 Agustus, perayaan Fiestas Agostinas atau festival untuk menghormati Divino Salvador del Mundo, yang diyakini sebagai sang juru selamat ilahi dunia. Di rumah yang pengap, gadis itu dicambuk 100 kali oleh Ibu tirinya karena terlambat menyajikan teh. Hal kecil yang dibesar-besarkan.

Dengan langkah tertatih, dia berjalan menuju tempat persembunyiannya, perpustakaan kecil. Malam cukup terang, lampu di mana-mana, hanya saja dingin angin menusuk sampai tulang. Dia tidak peduli, tetap berjalan dengan punggung penuh darah dan tanpa alas kaki.

Di depan buku “God's Heaven”, dia menangis tersedu, meminta Tuhan segera menjemputnya ke surga. Satu menit kemudian, gempa hebat melanda Santa Ana, gunung merapi Ilamatepec menyemburkan laharnya. Semua porak poranda, perpustakaan kecil itu roboh. Hancur tanpa sisa. Dalam semalam, semua luluh lantak, perayaan itu dimeriahkan oleh doa yang dikabulkan Tuhan dari gadis yang punggungnya masih basah oleh darah.

Tim evakuasi menemukan mayat penjaga perpustakaan, tapi tidak menemukan si gadis. Halaman buku 161 yang ditandainya terbuka.

“Di taman hijau yang indah, seorang anak yang dicintai Tuhan berlari riang, seolah tidak pernah merasakan luka, hanya ada tawa.”

Kini, gadis itu tinggal di dalam buku yang dibacanya.

 

___________________

*) Seorang ibu muda yang sedang sibuk mengurus bayi tampannya.