Ilustrator : link Muzayyaroh


Oleh : Dendi Indah

Jam dinding yang berdenting di kamar gadis bernama Ayu itu menunjukkan pukul 13.00 WIB, Ayu melihat kalender dan melamunkan sesuatu yang indah sehingga membuat dirinya tersenyum tipis. Ayu yang dikenal mempunyai sifat dingin itu tiba-tiba menginginkan sesuatu pada tanggal 11 Februari 2021, ia berdoa supaya valentine day tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ayu menginginkan sebuah kejutan dari seseorang yang ia idamkan sebagai hadiah dari Tuhan di bulan kasih sayang, ketika Ayu mengatakan Aamiin setelah berdoa tiba-tiba terdengar suara vespa tua yang sangat familiar ditelinganya. Ternyata benar, paman Ayu datang membawa tas dan koper yang tampak using namun telah dibersihkan dari hamparan debu yang menempel.

Saat Ayu menghampiri pamannya, ia mencoba menawarkan bantuan kepada pamannya untuk membawakan koper itu ke kamarnya, “Paman baru saja datang dari Probolinggo ke Situbondo dengan mengendarai vespa antik ini sendiri, bolehkah aku membantu paman membawakan koper itu?” tanya dia. Namun, pamannya melarang Ayu dengan mengatakan bahwa isi didalam koper itu terdapat rahasia. Meskipun begitu, Ayu terlanjur terperangkap dalam rasa penasaran yang dibuat oleh pamannya yang berusia tahun 72 itu.

Hari berganti malam dengan deburan angin sepoi dan rintik air menyerbu bumi bersama cahaya kilat, awan hitam pekat pun turut berhasil menghilangkan cahaya bintang dan rembulan. Sepertinya, tiba saatnya paman menunjukkan isi dalam koper tua berwarna cokelat itu. “Karena anggota keluarga sudah berkumpul semua, sekarang paman akan menunjukkan beberapa rahasia di dalam koper yang paman bawa tadi”, ujarnya. Seluruh keluarga benar-benar penasaran terhadap isi didalam koper itu.

Awalnya, paman menunjukkan pigura yang terdiri dari beberapa foto. Tampaknya itu terlihat seperti foto dari beberapa pahlawan saja, celoteh Ayu dalam hati. Namun tidak bagi ibu Ayu, baginya foto itu mengingatkannya kepada beberapa orang yang berharga dalam hidupnya. Rupanya, kumpulan foto dalam pigura itu adalah saudara ibu Ayu yang telah tiada jauh sebelum Ayu lahir. Dengan rasa penasarannya itu, ketika Ayu memegang pigura yang berisikan beberapa kumpulan foto paman dan bibinya yang telah tiada itu ia hanya tercengang melihatnya.

Tetap dengan sikap dinginnya, Ayu sambil lalu pergi meninggalkan pertemuan keluarga dan mengakhiri rasa penasarannya itu. Ayu memilih tidur lebih awal karena beberapa alasan, sebelum air menyerbu bumi semakin kuat bersama kilat dan gemuruh yang seakan salin bersahutan. Ayu menghindari hal tersebut, salah satunya untuk mengatasi rasa trauma nya terhadap hujan. Jadi, ia masuk kedalam kamar dan menguncinya. “Ayu sudah tidur, pintunya dikunci dan terimakasih untuk tidak mengganggu”, ujarnya pada secarik kertas yang ditempel didepan pintu kamarnya.

Setelah membersihkan diri, Ayu tidak langsung beranjak ke kasur untuk istirahat. Ia melihat jam menunjukkan pukul 23.15 WIB, sepertinya Ayu juga sudah tidak mengharapkan kejutan dibulan yang diberi simbol bulan kasih sayang. Namun ketika ia beranjak ke kasur dan berbaring, dengan mata terpejam ia berbicara dalam hati. “Tuhan, meskipun aku sudah tidak menginginkan kejutan berupa hadiah dari seseorang. Setidaknya berikan sesuatu yang berharga dalam hidupku, berupa cahaya untuk mengarungi dunia, Aamiin”, ujarnya. Seketika ia pun tertidur dengan begitu nyenyaknya. 

Keesokan harinya, Ayu dikejutkan dengan kepulangan pamannya yang dipercepat. ”Paman, tinggallah disini untuk beberapa hari lagi”, kata dia. Namun, pamannya tetap harus pulang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dirumahnya. Anehnya, paman hanya membawa tas tanpa koper ditangannya. “Paman pulang, temukan sendiri kejutannya di dalam koper itu”, ujarnya kepada Ayu.

Ayu mengkhawatirkan pamannya, tapi rasa khawatirnya hilang saat ia mengetahui bahwa pamannya tidak akan mengendarai vespa melaikan diantar saudara lelakinya dengan mobil pribadi milik ayahnya. Syukurlah, setidaknya akan mengurangi rasa letih paman diusianya yang ridak lagi muda itu. Tugasnya adalah mencari tahu kejutan yang dimaksud pamannya tadi, Ayu bertanya kepada saudara perempuannya untuk membimbingnya menemukan kejutan itu.

Saudara perempuan Ayu menjelaskan apa saja isi didalam koper yang dibawa paman kemarin, “Ini beberapa berkas penting milik keluarga ibu, ada kumpulan foto juga, kamu mau lihat yang mana?”, ujarnya. Entah mengapa Ayu tertarik untuk melihat buku dengan sampul biru tua dan langsung mengambilnya didalam koper itu. “Ini apa, boleh kulihat?”, tanya Ayu. Perlahan ia membuka buku yang masih terlihat rapih itu, betapa terkejutnya ketika Ayu mengetaui bahwa buku yang ia pegang adalah buku harian milik kakeknya.

Selain berisi catatan harian, didalam buku tersebut juga terdapat beberapa agenda penting tiap bulannya. Dilengkapi dengan catatan pemasukan dan pengeluaran yang ditulis sangat rapih dengan tinta hitam yang masih bisa terbaca jelas. Hal yang mengejutkan lainnya adalah ketika pada satu lembar halaman terisi penuh dengan tinta hitam seperti biasa, mengetahui hal itu tiba-tiba Ayu meneteskan air mata. Saudara perempuan Ayu bertanya, “Kamu menemukannya?”.

Di halaman itu tertulis nama nenekku, lengkap dengan nama panggilan kesayangan dari kakek dan tidak lupa juga tanggal kepergian nenek meninggalkan kakek untuk selamanya. Tidak hanya itu, kakek menuliskan hari peringatan kepergian nenek, 3 hari kepergian nenek, 7 hari, 40 hari, 100 hari, peringatan satu tahun, dua tahun, sampai peringatan 1000 hari nenek pun ditulis rapih didalam buku hariannya.

Ayu menangis terisak seusai membaca catatan harian milik kakeknya, ia baru menyadari bahwa kejutan ini benar-benar diluar dugaannya. Begitu romantisnya kisah percintaan kakek dan neneknya. Ayu pun bersyukur karena di bulan Februari tahun ini, tepatnya 2 hari menjelang perayaan Valentine Day tidak hanya kejutan yang ia dapatkan. Melainkan ia juga pelajaran melalui kisah cinta kakek dan neneknya, berakhir dengan maut yang memisahkan. “Tuhan, terimakasih banyak. Ini lebih dari cukup, Engkau tidak hanya memberiku kejutan yang berhaga melaikan Engkau berikan cahaya sekaligus yang amat terang benderang dalam kehidupanku ini”, ujarnya dalam doa.

Saat ini Ayu tidak hanya mengerti apa itu cinta dan kasih sayang, kini Ayu si gadis dingin itu mengerti bagaimana arti ketulusan jika seseorang mencintai dengan penuh kasih sayang. Tidak ada satu pun akhir cerita, terjadi karena kau menginginkannya. Jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan rencanamu, ingatlah bahwa hidup tidak dalam kendalimu. Sejatinya, musuh terbesar didunia adalah diri kita sendiri. Karena bahagia itu tidak dicari, akan tapi diciptakan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan menjadi mudah. Cobalah berdamai dengan hatimu sendiri, maka ketulusan dan hangatnya kasih sayang bisa kita rasakan.

 

 

Sekian_


__________________________________________________

Dendi Indah, lahir pada tanggal 28 April 2000 di Situbondo, Jawa Timur. Tercatat sebagai mahasiswa Universitas Abdurachman Saleh Situbondo di Fakultas Pertanian jurusan Agribisnis. 

Tulisan ini hasil challange KMC.